Pengaruh Pandemi Terhadap Perkembangan Asuransi di IndonesiaPengaruh Pandemi Terhadap Perkembangan Asuransi di Indonesia

Pesatnya digitalisasi yang berlangsung selama masa pandemi rupanya mempengaruhi layanan dan produk di sejumlah industri, tak terkecuali industri asuransi. Hal tersebut terlihat dari hadirnya produk asuransi online Indonesia dari sejumlah perusahaan asuransi. Dengan kehadiran produk tersebut, masyarakat diharapkan dapat melindungi diri, keluarga, hingga kendaraan dari berbagai risiko dengan prosedur yang lebih praktis.

 

Peningkatan kanal digital pada industri asuransi

Tak dipungkiri bila kanal digital menjadi peluang pemasaran menjanjikan di masa pandemi. Walau porsinya belum sebesar bank atau telemarketing, pemakaian teknologi tersebut di industri asuransi mengalami perkembangan signifikan.

Berdasarkan data Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI), pendapatan premi yang diperoleh dari kanal digital naik hingga 0,6% sepanjang semester I-2021. Sememtara nilai pendapatan premi dari kanal keagenan alami naik dari 11,4% (2020) menjadi 12,7% (2021) atau sekitar Rp4,84 miliar. Lalu pada kanal bancassurance, porsinya berada di angka 4,2%.

Dikutip dari Keuangan Kontan, Dody Achmad Sudiyar Dalimunthe selaku Direktur Eksekutif AAUI mengatakan bahwa trigger yang terjadi di masa pandemi membantu mengoptimalkan implementasi digital pada industri asuransi. Jika dikelola dengan baik, bukan tidak mungkin kanal digital akan memberikan manfaat dalam penetapan tarif premi, klaim asuransi, hingga pengelolaan data risiko.

Di sisi lain, Dody juga meminta perusahaan asuransi untuk mengantisipasi tantangan sehubungan keamanan siber. Seperti yang diketahui, layanan-layanan digital mengandalkan data pribadi para pengguna untuk memaksimalkan pelayanan. Kalau sistem keamanannya kurang baik, para hacker dapat leluasa mencuri informasi tersebut. Akibatnya, perusahaan akan kehilangan kredibilitas sekaligus pelanggan mereka.

Implementasi fitur dan layanan digital untuk asuransi

Menurut Dody, wabah Covid-19 secara tak langsung mengakselerasi interaksi pelanggan secara online. Di industri asuransi sendiri, tren digitalisasi telah diaplikasikan pada sebagian besar produk, dari asuransi jiwa, asuransi kecelakaan diri, hingga asuransi kendaraan. Lini-lini asuransi ini walau relatif sederhana memiliki frekuensi transaksi besar dibandingkan produk lainnya.

Sayangnya, beberapa perusahaan asuransi belum memahami pentingnya implementasi fitur dan layanan digital. Bahkan berdasarkan rekap AAUI, jumlah perusahaan yang sudah menggunakan kanal digital masih sedikit. Jika tak segera mengejarnya, perusahaan-perusahaan tersebut bisa kalah saing dengan kompetitor. Terutama dari kalangan pendatang baru yang sudah menerapkan digitalisasi sejak awal.

Untuk itu, penting bagi perusahaan asuransi untuk mengembangkan digitalisasi. Kerja sama atau kolaborasi dengan mitra bisnis seperti pialang, e-commerce, dan agen dapat membantu mereka untuk memberikan layanan terbaik. Mitra-mitra ini juga yang paling sering masyarakat andalkan saat harus memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Dody memungkas, dengan dominasi generasi muda dalam kelompok pengguna internet, peluang insurtech atau asuransi online akan semakin besar. Belum terlambat bagi perusahaan asuransi untuk mengaplikasikannya pada fitur dan layanan demi masa depan yang lebih baik.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *